GIZ! Blog

Maaf, Aku Tidak Gaul

Cerita tentang rumah masa kecilku yang seingatku lupa-upa ingat.

— Jul 8, 2015 —

Aku tidak gaul.

Sebenar-sebenarnya dalam setiap jengkal bagian diriku.

Membenarkan.

Membeberkan.

Dan jujur tidak mengamini.

Benar!


Bukannya aku tidak bergaul.

Bukannya aku tidak mencoba bergaul.

Namun kudapati…

Sulit bagiku untuk menggauli setiap dan setitik darimu.

Dan mungkin, sulit bagimu untuk menggauli setiap dan setitik dariku.

Sulit bagiku untuk menggauli setiap dan setitik lainnya yang bukan aku.

Dan mungkin, sulit bagimu untuk menggauli setiap dan setitik lainnya yang bukan kamu.

Dan cetusan kemungkinan-kemungkinan adalah sesuatu yang kucoba mengerti, tapi jelas belum tentu benar, dan kebenarannya hanya kamu yang tahu.

Kita sama-sama tahu.

Dan kita sama-sama saling tidak tahu, apa-apa yang kita tahu.


Ketika aku mencoba gaul, termasuk ketika aku sok gaul, tidak sedikitpun kenyamanan memeluk setiap jengkal bagian diriku.

Maaf.

Dan ketika aku menjadi sesuatu yang bukan bagian diriku, lelah.

Dan tentu kurang baik bagi kewarasan. Karena bagaimana mungkin aku tidak bergaul dengan diriku sendiri. Dan tidak mengijinkannya untuk lepas, bebas, mengena, dan membuai menjadi diri sendiri.

Sesungguhnya, aku ini tidak seperti aku yang dipikirkan orang lain. Ialah hanya aku yang aku pikirkan, sejujurnya.


Namun, dan namun…

…tak pernah aku berpikir aku hidup sendiri, di jelas-jelas jutaan makhluk hidup dan makhluk mati, yang berkoloni, berinteraksi dan berkolaborasi.

Sebenar-sebenarnya dalam setiap jengkal bagian diriku.

Aku ingin…

Aku mau…

Aku harus…

Aku sebaiknnya…

Bergaul, menyertai dalam pergaulan denganmu sekalian yang menghanyutkan. Menggoyahkan pergaulanku pada diriku sendiri.

Dan kuharap tidak cuma aku yang mengerti, bahwasanya aku hanya dalam kebiasaan dan kebisaan : bahwa aku terlampau terhanyut pada pergaulan pada diriku.

Terlampau asik aku, pada aku.

Dan karenanya, dan kuharap tidak cuma aku yang tidak menyerah, untuk memahami aku dan menghanyutkan aku dalam pergaulan dirimu.

Tolong, jangan menyerah.

Tolong, dan…

Sekian.


Yogyakarta, 8 Juli 2015,

Lewat tengah malam, setelah kehilangan seorang (yang sepertinya sih) teman