GIZ! Blog

GIXIPP #1 : Seonggok Budak Teknologi

— Jun 7, 2013 - Terakhir diedit: May 23, 2020 —

Seonggok budak teknologi itu lupa bahwa asal muasal hidup itu berasal dari kehidupan. Bukan dari benda mati.

Aku ini manusia biasa. Butuh makan. Butuh bernapas. Butuh mandi. Butuh uang. Butuh cinta. Serta merta butuh hidup agar disebut makhluk hidup.

Aku disini bukan bercerita asa, melainkan cita. Menuliskan sesuatu yang aku pikir bisa membuat aku menjadi aku yang lain.

Monster?

Jika kamu pikir ini asa, maka itu salah. Ini cita yang tinggi. Tempat aku menuliskan segala asa yang tak tercipta tak direncana, berharap menjadi cita aku yang terencana. Ah sudahlah!

Alkisah temanku yang fenomenal datang dengan biasa saja. Bertanya dengan tiba-tiba. Lalu merancau bebas! Dan tentunya teori sebab-akibat berlaku. Akupun merancau lebih bebas.

“Bukahkan dunia saat ini begitu jahat? Orang-orang kapitalis merajai pasaran dengan populernya.”

Sebuah awal celotehan ini hadir dari lelaki ini, seorang kurus lecek dan lupa estetika. Jika benar dia jauh dari ganteng, maka berarti akutelah tidak berbohong dengan benar. Dan lalu dia berkata lagi dengan lantangnya…

“LAMA-LAMA KITA INI JADI BUDAK TEKNOLOGI!!!”

Teknologi itu lucu. Dia membuat sebuah solusi, tapi lupa bagaimana cara agar tidak menimbulkan masalah lagi. Untuk menambal banyak lubang masalah yang tadi itu, kita butuh teknologi lainnya. Dan berkatnya, solusi hadir lagi, spesial untuk membuat masalah yang timbul dari solusi tadi.

Ya, looping forever berlaku dalam dunia teknologi.

Bukankah itu menarik? Bayangkan jika benar teknologi itu hadir dari suatu masalah? Tebak sajalah, apa teknologi pertama yang pernah hadir dunia? Pun digunakan untuk memecahkan masalah apa? Ada yang kepikiran? Silahkan garuk kepala. Biar tidak bosan!

Entahlah!

Ocehan demi ocehan temanku tadi akhirnya mau tidak maumenggelitik otak udangku. Entah seberapa besar otak udang ebi maupun lobster itu, yang jelas dia bikin tidak jelas otakku! Ada apa tetiba dia berbicara tentang budak teknologi seperti itu? Bukankan dia juga budak teknologi?

Entahlah!

Aku sendiri jikalau mikirin budak teknologi begitu, kepikirannya pada masalah manusia yang memiliki nafsu dan rasa tidak puas. Mungkin seperti temank ini. Manusia memang begitu. Lupa bahwa kita ini kudu sujud syukur sudah dikasih hidup. Kita enggak kayak gadget kita yang perlu baterei biar bisa hidup kan?

Sayangnya, kita ini hidup di jaman kita enggak bisa hidup tanpa gadget. Walaupun gadget sendiri butuh bateri untuk hidup! Dan sepertinya jika dipikir-pikir temanku tadi bukan makluk hidup. Dia tidak merasa hidup sih. Tuhkan dia secara tidak langsung berteriak kencang…

“DUUUUUUH, MATI SAYAAAA! (gegara barang mati!!!!)”

sambil mengelus-ngelus gadget keluaran terbau. Eh maksudku terbaru.

Iya. Mungkin umat manusia telah (lama) mati. Hanya mereka tidak menyadarinya.

Mungkin.