“Prof… Jadi gimana Prof? Apakah semuanya berjalan lancar?”

Seorang tua berkacamata tebal dengan uban itu kini memegang benda berwarna pink. Bukan sebuah kristal, melainkan gel solid. Mengamati beberapa saat wadah bertuliskan “Cukup satu colek, semua bersih seketika!”, lalu memperbaiki posisi kacamatanya yang hampir melorot ke lubang hidung.

“Tak perlu kuatir! Ini akan menjadi senjata andalah kita!” Jawabnya mantab.

“Ekstraksi cinta umat manusia dan semesta ada di sini!” Ujarnya sambil tersenyum lebar.

“Oh jadi ini prof… senyawa yang telah kita hasilkan setelah penelitian berjuta-juta tahun. Luar biasa prof! Sungguh menarik.”

Senyumnya lebar. Tapi berkeringat. Dan otot mukanya ngilu. Memaksakan diri itu tidak bagus untuk kesehatan wajah, pikirnya.

“Tentu saja. Ini adalah titik balik untuk Bumi dan seisinya. Untuk semesta yang lebih baik!”

Lantas diambilnya satu colek tersebut lalu dioleskan pada benda di depannya.

DEZZZZING!!!

CETARRRR!!!

DUSSS!!

DUSSS!!! Sinar laser menyeruak. Bising sedetik kemudian disertai darah berceceran.

“Berhasil! Berhasil! Berhasil! Horeee!” Ujar benda yang beberapa waktu lalu diam, yang sekarang membuat sekitar terdiam.

“Misi pertama ber-ha-sil!”

Hari itu terlahirlah, sebuah robot yang bisa menangis, meringis, menggaris, mengubris, mengiris, mengais kehidupan dalam sebuah kacamata yang lain, yang umat manusia kelupaan karenanya.

“Mau kemana kita? Mau kemana kita? Pabrik reproduksi!” Ujarnya.