GIZ! Blog

GIXIPP #2 : Satu Jentikan Jari

— Jul 7, 2013 - Terakhir diedit: May 23, 2020 —

Sebut saja kalimat ini adalah permulaan celotehan. Lalu membuatku merancau pagi ini. Yang tentunya diawali celotehan orang lainnya. Dialah Si Mbokdhe Wanti.

“Halah-halah tho le! Njenengan ini lho… di depan leptop terus apa enggak bosen lho! Mbok ya keluar sana. Cari cewek. Cari obat nyamuk! Atau cari inspirasi hidup gitu! Cari masalah juga boleh!!!” Cela Mbokdhe Wanti setajam-tajamnya.

Masih saja terngiang perkataan mbokdhe hingga seperti dibisikkan bukan sekedar tepat di telingaku. Melainkan tepat dari dalam kepalaku. Langsung nyantet otak!

Mbokdhe Wanti ini memang bukan Ibuku, tapi cerewet udah gitu banget. Mungkin karena wasiat terakhir mendiang Ibuku yang dimana mengharuskan Mbokdhe Wanti selalu gitu banget.

“Jagalah seperti semua milikmu seperti peri dapur yang menjaga piringmu!”, ya gitu deh!

Ibu tahu betul mbokdh eini goblok! Maka sejujurnya cukup wajar juga jika akhirnya mbokdhe bertingkah lebih dari sekedar ibuku. Tapi sebenarnya apalah sih ucap kata Mbokde Wanti ini. Rasanya perkataanya itu telek-telekan saja, enggak ada bener-benernya!

Ya walaupun aku ini cuma di depan laptop, tapi aku lebih tahu dari apapun yang Mbokdhe Wanti tahu. Serius! Maka dari itu, wajar saja jika aku selalu tidak menggubris omongannya itu. Biyarin!

Pernah suatu ketika Mbokdhe Wanti cerita hura-hura ada penyanyi yang cantik-cantik kek bidadari joget-joget di televisi. Pokoknya cakep-cakep banget gitu. Suruh ngambilin satu, dikarungin, lalu dibawah pulang, ujar dia memelas. Lumayan buat pajangan gitu! Lah aku kan jadi tiada kuasa menghalahkan panunya sekaligus anunya dia!

“Halah mbok-mbok!!! Itu namanya JKT48!!! Sister Idol Grup Jepang AKB48! Itu mah saya ngerti banget mbok!!! JEEEE KEEE TI VORRRR TI EEEEGGGH!!! NGGAK USAAAH SOK TAHI AYAM DEH MBOK!! TELEEEEK-TELEEEKAN YUUUUKK!!!”

Nadaku keras sekali. Sekeras piring kesayangan mbokdhej ika terjatuh dari lantai tiga puluh dua. Pasti ada yang pecah di bagian tertentu. Atau pecah semuanya?

Memang sih, memarahi dengan memberitahu jelas beda. Walau mulutku ejahat ini, tapi Mbokdhe Wanti tetep saja kekeuh, nyerocos ngalor kidul. Sudah terbiasa. Pun sudah kebisaannya dia. Dan mungkin mbokdhesangat tahu itu. Mungkin karena dia sangat sayang kepadaku. Atau karena budheg karena umur yang menggerogotinya? Entah!

Yang saya tahu, dunia ini makin sempit! Apa saja di ketahui dengan cepat. Itulah Twitter, media mainstream yang cepat sekali. Wusss wusss wusss! Itulah Google, mbah dukun era 2.0 yang tahu apa saja. Croooot croooot croooot! Dan itulah… internet!

Pikiran saya tentang satu jentikan jari yang mengubah dunia jelas tak ada yang salah. Sebuah gadget di depan saya, yaitu smartphone berukuran 4 inchi ini adalah senjatanya utamanya. Pun laptop saya berukuran 14 inchi. Pun juga computer desktop saya. Saya tahu apa-apa berkatnya. Mereka sangat tahu apa saja. Begitu pula saya. Mereka nyaris tanpa celah tanpa tahu. Selalu tahu! Enggak kayak mbokdhe! Apa-apa nggak tahu! Cuma sok tahu!

Cuma tahu itu…yang aku juga tak tahu. Iya, dia tahu itu! Dia tidak tidak tahu apa-apa kecuali dimana-bagaimana-bilamana hari ibu saya meninggal! Ho’oh! saya tidak tahu itu. Itulah menyebabkan saya tidak melihat muka ibu saya untuk terakhir kalinya. Karena keasikan dengan alat yang katanya serba tahu itu sih. Keasikan menganu! Keasikan menginu! Dan segala anu-inu! Waktu itu mbokdhe tahu betul.

Tapi sekarang dia mengelak tahu! Segala jentikan jari saya pun saya kerahkan! Membunuh satu pengetahuan mbokdhe yang sedangkal air kloset itu.Tapi alat perang saya juga tak tahu. Sempat saya menyesal karena itu. Karena mungkin nanti saya juga enggak tahu hari dimana mbokdhe meninggal. Baguslah! Baguslaaaaah! Kegilaan saya tergila-gila! Tolong siapapun bantu saya membunuh mbokdhe Wanti!