GIZ! Blog

GIXIPP #3 : Rem Roda Kehidupan

— Aug 7, 2013 - Terakhir diedit: May 23, 2020 —

Ini ialah sebuah cerita tentang kehidupan kita yang seringkali kita tidak pernah tahu dan kita tidak mau tahu. Berputar seperti roda. Roda yang bulat. Berdiameter yang berarti terukur. Yang kadang di atas kadang di bawah. Yang namun masih dalam jarak jari-jari yang sama, dari pusat segala hidupmu.

Tapi ini bukan cerita tentang ‘atas bawah’ itu. Melainkan perputaran roda. Dan segala percepatan dan perlambatannya. Yang kadangkala berputar seperti tanpa rem.

Namun adapula waktu mendadak dipaksa menginjak rem. Tersentak kaget dibanding yang kemaren Satu Jentikan Jari itu?

Terbangun jam 9.10 pagi setelah semalam lembur.

Lembur bermain game hingga jam 3.30 dini hari. Begitu pula hari kemarin. Hari kemarinnya juga. Dan pastinya hari selanjutnya pula.

Terus… dan terus.Dalam sebuah kamar sewaan ini, aku bangun… dan terbangun. Nge-game, makan, nge-game, ee’k, minum, pipis, nge-game, tiduran, nge-game, tidur-tiduran, makan, nge-game, ketiduran, nge-game, lalu tidur lagi. Lalu terbangun lagi. Entah sudah berapa kali aku melewati iterasi ini. Sebuah looping yang tak henti-henti. Seperti salah algoritma. Seperti tak segera menemukan kondisi benar untuk berhenti. Dan tak pernah siap dan bersiap melakukan proses selanjutnya. Semua berlangsung menahun! Bertahun-tahun! Tahun pertama aku menikmati pola ini. Tahun kedua aku menikmati kesendirian karena pola ini. Tahun ketiga aku menikmati kesepian karena pola ini. Tahun keempat aku merasa kesepian karena pola ini. Tahun kelima mulai benci kesendirian karena pola ini. Tahun keenam aku mulai benci hidup karena pola ini. Aneh? Atau wajar? Kutatap sebuah layar monitor berukuran 20 inchi ini. Mataku terpaku pada game baru yg keluar belum ada seminggu ini. Sedikit bingung, gelisah, senang, ataupun sedih. Ya karena game ini dengan cepat aku selesaikan. Bahkan terlalu cepat! Berkisah seputar petualangan bocah kecil yang terdampar di pulau terpencil. Saling bertemu manusia lainnya, namun dengan bahasa berbeda, kulit berbeda, perawakan berbeda, dan makanan pokok yang berbeda.Iya, kanibal. Lalu bocah kecil itu, bertemu manusia beneran, sebener-benernya, dari otak, pemikiran, hingga hatinya. Adakalanya, dia juga bertemu dengan manusia hantu, manusia ikan, manusia sarden, dan juga manusia-manusiaan. Macam dan bermacam-macam! Dan tiba-tiba aku menaatap diriku sendiri. Aku pun bertanya, kapan aku bertemu manusia kanibal? Kemudian manusia hantu, manusia ikan, atau manusia sarden? Aku pun malah bertanya-tanya… kapan terakhir kali aku bertemu manusia beneran? Lupa! Manusia beneran dengan otak jahat dan baik, senyum sayang dan senyum benci, serta hal-hal lain mengenai manusia yang sedikit banyak telah aku benci namun rindu ini. Kini, aku hanya terpencil di kamar ini. Yang seperti, tamatnya hidup saya juga bakal disini.

“Tolong selamatkan aku!” Hati kecil terkecil saya berteriak dengan volume paling rendah. Maka jelas mengapa saya masih di sini saja. Karena hati saya sudah terlampau lemah, kecil, malas, bahkan untuk sekedar merasakan hal lain. Mungkin! “Tok, tok, tok…” tak biasanya pintu kamar rumahku ini diketuk orang. Ah biarkan saja. Paling juga tetangga sebelah yang repot-repot mengajak bersih-bersih kompleks. Atau sekedar penagih utang. Atau? Manusia kanibal? Siapa ini? Ataukah ini ibu? Oh tidak! “Tok, tok, tok… “ lagi diketuk cukup keras, namun aku tak menggubrisnya. Sebenarnya, sebelum tidak serumah dengan orang tuaku, selalu ada perasaan kesal setiap ada yang mengetuk pintu. Dulu sekali sering-kali diketuk disuruh mandi, disuruh makan, disuruh olahraga, disuruh e’ekoleh ibuku. Dan ketukan pintunya, adalah kode yang harus segera aku terjemahkan jadi tindakan! Jika tidak, hancurlah pintu itu jadi berkeping-keping. Kadang saya berpikir, jangan-jangan ibu saya superhero yang menyamar! Yah, walau sekarang itu bikin kangen, tapi tetap saja hal begini adalah sesuatu paling menyebalkan bagiku. Jangan tanya kenapa? Entah sejak kapan, aku jadi suka menyendiri di dalam kamar seperti ini. Sendiri! Menyendiri! Sepi! “Duar, duar, duar…” kali ini bukan ketukan. Tapi dobrakan. Saya mulai gerah. Jangan-jangan ini beneran ibu saya. Sudah tabiatnya memang begitu! Harus aku usir dia dengan kata-kata, biar kapok! Menyakiti ibuku memang tidak perlu clurit yang tajam, hanya kata-kata yang setajam silet! Dan tentu dengan gontai aku menuju pintu. Berjalan dengan pelan, siap-siap marah kepada seseorang yang tak tahu siapa. Saya harap itu bukan Ibu saya. “Klontang! Gludak! Dag Dig Dug! Tueeer! Jedooorrr… dueeeeeeng!” Suara berisik gembok kunci dan rantainya terlepas. Saya sampai lupa kombinasi kuncinya. Mungkin sudah hampir setahun tak dibuka! “Nguuuuuiiiik!” Suara pintu berdecit pasrah bak tikus kawin. Terlampau tua untuk bersenggama rupanya! Perlahan kulihat sosok di depan pintu.

Belum sempat aku berkata… dan bersuara… suara cempreng itu mendahuluiku! “Ayooo!! Jadi enggak? Gimana sih???” Aku mengernyitkan dahi, kebingungan. Ada apa ini? Seorang gadis muda yang mungkin seumurku berdiri sambil senyum-senyum sesekali. Manis sih, sampai aku terpenjara dalam ruang waktu. Aku terkaku! Sial, ini pasti hipnotis modus baru. Harus kubunuh orang ini! “Heh! Ayo!” Dia menarik tanganku. Aku tersadar. Ini bukan hipnotis ya? Iya! “Hah! Ngapain emang?” Aku sekenanya bertanya. Bertanya-tanya bingung tanya apa. Kali ini dia cuma tersenyum manis. Seraya berkata…

“Jalan-jalaaaan meeeen!” Kemudian dia tersenyum. Dia sungguh tersenyum lebaaaaaar sekali. Dan menarikku keluar. Keluar dari tempat ternyamanku. Tubuh kurusku tertarik pasrah. Atau memang memasrahkan diri?

Sedetik lalu aku merasa diculik. Sedetik kemudian merasa terbebas dari penjara yang kubuat sendiri. Dalam lubuk hati kecilku, aku berbahagia besar sekali. Sangat bahagia. Tubuh mungilnya menarikku dengan kecepatan 300 tahun cahaya. Entah kemana!

“Terima kasih!” batinku memainkan drama.