Suatu hari dan tolong jangan tanya bagaimana bisa, aku dikutuk jadi semut. Semut kecil sekali, yang tak terlihat, tak tersapa, tak terinjak oleh sepatu bola, dan juga tak disangka-sangka ada di situ. Aku juga tidak menyangka aku bisa ada di situ. Hingga aku juga memilih diam, mengamati, dan menikmati.

Dua buah manusia itu datang. Yang berbeda jenis kelamin itu tampak bermuram durja. Satu mukanya jelek karena memang jelek. Satu mukanya jelek karena cemberut. Dan tahukah kamu? Manusia pertama tampak manis walaupun cemberut. Dan sebagai semut pun, aku masih suka yang manis-manis.

Mereka tampak kesepian. Mamun mengapa mereka tak saling bersapa? Jangan tanya aku!

Aku memutuskan menaiki manusia yang pertama. Memiliki pinggang yang lebih melengkung dibanding punyaku kala menjadi manusia. Di dadanya ada gundukan empuk. Anget-anget empuk! Serta merta aroma bau tubuhnya lebih wangi dan menarik penciumanku yang lebih tajam daripada manusia biasanya. Kupilih sekitar leher sebagai tempat ternyamanku. Beruntung, manusia pertama tersebut tidak sadar akan kehadiranku. Aku nyaman di situ!

Suasana sekitar situ begitu damai, tapi keterlaluan. Sebuah benda aneh di tangan masing-masing mereka. Nampak khusuk, khidmat luar biasa.

“Kyaaaaaaa!” Manusia pertama menjerit.

“Hah… ada apa?” Manusia kedua kaget.

“Nggg… anu… enggak, ini nih… ada semut!” Wajahnya memerah.

“Oh…” Lalu mereka terdiam kembali.

Beberapa detik kemudian… manusia kedua berujar.

“Kamu manis sih!” Keduanya tertawa. Lalu mereka bercakap satu sama lain. Namun aku sekarat. Sebagai semut, mungkin in tugas terakhirku. Semoga aku jadi semut yang mati Syahid.

Semoga.

Do’akan saja.